TEMPE: Bukan Sekadar Lauk, Kini Diakui sebagai Superfood Global
THP UNKHAIR -- Program Studi Teknologi Hasil Pertanian (THP) Universitas Khairun kembali menyelenggarakan kuliah tamu (05/05/26) waktu lalu. Menghadirkan Dr. Dadi Hidayat Maskar, dosen Program Studi Gizi Fakultan Teknologi Pangan & Kesehatan, USAHID, Jakarta. Beliau juga merupakan Dewan Pembina Forum Tempe Indonesia dan The Soyfood and Beverages Network (SoyBeanN) Indonesia.
Dalam pemaparannya, Dr. Dadi mengulas berbagai fakta ilmiah mengenai tempe sebagai pangan fermentasi khas Indonesia yang kini mendapat perhatian dunia karena nilai gizi dan manfaat kesehatannya. Tempe telah diakui sebagai salah satu superfood dunia berdasarkan kajian Global Snapshot of Superfood Potential oleh Innova Insight. Dari berbagai komoditas pangan global, hanya sejumlah kecil yang masuk dalam kategori superfood, dan tempe menjadi salah satu di antaranya karena kandungan gizinya yang sangat lengkap dan manfaat kesehatannya yang luas.

Menurutnya, tempe merupakan pangan tinggi protein (high protein food) yang berbahan baku kedelai. Kedelai mengandung sekitar 40 persen protein, 20 persen lemak, dan 30 persen karbohidrat, menjadikannya salah satu sumber protein nabati terbaik. Bahkan, kualitas protein tempe memiliki skor yang setara dengan kasein pada susu dan protein putih telur, yakni mencapai skor 1,0.
“Tempe merupakan pangan yang unik karena menggabungkan keunggulan bahan baku kedelai dengan proses fermentasi yang meningkatkan kualitas gizinya,” jelas Dr. Dadi.
Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa proses fermentasi tempe melibatkan mikroorganisme utama Rhizopus spp. serta bakteri asam laktat yang berperan dalam memecah protein kompleks menjadi bentuk yang lebih mudah dicerna tubuh. Fermentasi juga meningkatkan efisiensi pemanfaatan protein sekaligus memperkaya kandungan vitamin, seperti vitamin B1, B2, B3, B12, dan vitamin A.
Selain itu, selama proses fermentasi terbentuk berbagai senyawa bioaktif yang bermanfaat bagi kesehatan, antara lain isoflavon, vitamin B kompleks, asam lemak tidak jenuh, serta senyawa antibakteri alami. Karena itu, tempe sering disebut sebagai nutrient booster yang mampu meningkatkan kualitas zat gizi dibandingkan bahan bakunya.
Dr. Dadi juga menegaskan bahwa tempe memiliki kandungan gizi yang sangat kompleks. Dalam setiap 100 gram, tempe tidak hanya menyediakan protein, tetapi juga lemak sehat, karbohidrat, serat pangan, vitamin, dan mineral yang mendukung kesehatan tubuh secara menyeluruh.

Menariknya, ia turut meluruskan persepsi masyarakat terkait konsumsi tempe dan asam urat. Berdasarkan berbagai penelitian, produk olahan kedelai termasuk tempe tidak terbukti meningkatkan kadar asam urat secara signifikan. Sebaliknya, konsumsi tempe justru berpotensi membantu menurunkan kadar asam urat dalam tubuh.
Selain dikenal sebagai pangan bergizi tinggi, tempe juga memiliki nilai budaya yang kuat. Pada tahun 2017, tempe resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Melalui kuliah tamu ini, mahasiswa THP memperoleh wawasan yang lebih luas mengenai potensi tempe sebagai pangan fungsional, produk fermentasi unggulan Indonesia, sekaligus komoditas yang memiliki peluang besar untuk dikembangkan dalam industri pangan masa depan.(wr)*